Sabtu, 12 September 2026
JAKARTA – Perempuan Pemimpin Indonesia (PERPINA) sukses memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 yang digelar di Perpustakaan Negara, Jakarta, pada 10 September 2026. Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus dirangkai dengan pelantikan Pengurus Pusat dan Daerah PERPINA masa jabatan 2026–2031 yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum PERPINA, Veve Safitri.
Pada kesempatan yang sama, PERPINA juga menyelenggarakan Women Leaders Summit 2026 dengan mengusung tema “Perempuan Menciptakan Ekonomi, Kekuatan Mental dan Ketahanan Pangan Masa Depan.”
Kegiatan tersebut menjadi ruang strategis bagi para pemimpin dan tokoh perempuan untuk bertukar gagasan, memperkuat jejaring, serta mendorong lahirnya kolaborasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.Dalam sambutan pengantarnya, Ketua Umum PERPINA Veve Safitri menekankan pentingnya membangun kerja sama melalui pendekatan pentahelix. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan karya para pemimpin perempuan Indonesia.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan hingga sosial, tidak hanya di Indonesia tetapi juga hingga ke tingkat global.
Veve Safitri mengungkapkan rasa bangganya karena peringatan HUT ke-7 PERPINA turut dihadiri oleh anggota dari berbagai negara, di antaranya Prancis, Turki, dan Amerika Serikat.
Semangat kolaborasi tersebut juga mendapatkan perhatian dari Nanie Hadi Tjahjanto, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Acara turut dihadiri sejumlah tokoh perempuan, di antaranya Dr. Dewi Motik, yang merupakan salah satu Dewan Penasihat PERPINA, serta Prof. Sylviana Murni dan Prof. Anna Mariana. Salah satu agenda utama dalam Women Leaders Summit 2026 adalah seminar yang menghadirkan sejumlah perempuan inspiratif dan pemimpin dari berbagai bidang.
Salah satu pemateri adalah Prof. Dr. Dra. Francisca Sestri Goestjahjanti, M.M., Rektor Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), yang kembali dipercaya sebagai Dewan Pakar PERPINA Bidang Ekonomi. Dalam pemaparannya, Prof. Francisca Sestri mengangkat materi mengenai “Pentingnya Peran Politik pada Tata Kelola Ketahanan Pangan.”
Menurut Prof. Francisca, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga membutuhkan tata kelola kebijakan yang kuat serta keberpihakan berbagai pihak. Ia menyoroti setidaknya tiga aspek penting, yaitu:
Prof. Francisca menjelaskan bahwa peran DPR dan pemerintah sangat penting dalam menciptakan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran. Ketidaktepatan dalam pengelolaan kebijakan tersebut dapat memberikan dampak terhadap kondisi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Dalam paparannya, Prof. Francisca juga menyoroti sejumlah tantangan ekonomi yang perlu menjadi perhatian bersama.
Pertama, terkait pertumbuhan GDP Menurutnya, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 5,2 persen, angka tersebut belum dapat menjadi satu-satunya ukuran kesejahteraan masyarakat. Ia menilai pertumbuhan masih perlu dilihat dari kualitas dan sumber pertumbuhannya, termasuk investasi, belanja pemerintah, serta kinerja ekspor neto.
Kedua, persoalan pengangguran. Peningkatan pengangguran berpotensi menurunkan daya beli masyarakat dan pada akhirnya dapat memicu berbagai persoalan sosial yang turut berpengaruh terhadap keamanan dan stabilitas lingkungan.
Ketiga, kemiskinan yang berpotensi meningkat apabila persoalan ekonomi tidak ditangani secara komprehensif. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang. Sebagai bagian dari solusi, Prof. Francisca mendorong anggota PERPINA untuk mengambil peran lebih aktif dalam membantu UMKM di berbagai daerah, khususnya dalam memperluas akses terhadap permodalan dan pemanfaatan teknologi digital.
Menurutnya, penguatan UMKM perlu dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, serta stakeholder terkait.
Digitalisasi diharapkan tidak hanya membantu UMKM dalam pemasaran, tetapi juga meningkatkan efisiensi usaha, memperluas akses pasar, dan membuka peluang baru bagi pelaku usaha di daerah.
“Perempuan bukan hanya menjadi bagian dari pembangunan, tetapi juga harus menjadi penggerak perubahan dan pencipta solusi.”
Semangat tersebut sejalan dengan peran PERPINA dalam mendorong perempuan Indonesia untuk berkontribusi lebih luas dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Diskusi dalam Women Leaders Summit 2026 dimoderatori oleh Rusty Rustarto dan menghadirkan sejumlah pemateri kompeten dari berbagai bidang.
Selain Prof. Francisca Sestri pada bidang ekonomi, hadir pula Lyra Puspa yang membahas bidang Human Capital & Leadership, serta Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani yang memberikan perspektif dari bidang Energy.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif bersama para peserta.
Informasi terbaru dari semua fakultas.
Mari, tunggu apa lagi, pendaftaran lebih awal akan mendapatkan potongan biaya kuliah. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Mari bergabung dan raih sukses bersama kami.